Trimester 2: kami mencintai-Mu

by - January 04, 2021

Beberapa orang bertanya, apakah aku dan suami melakukan program hamil (promil) sebelum kehamilan ini? Hmm.. Aku pikir aku bisa bilang belum, kami belum promil ke dokter, tapi tentu setelah mengalami keguguran aku jadi lebih concern dengan kesehatan, pun begitu juga suami yang mulai rutin minum vitamin dan food supplement. Dari sisi lifestyle, kami cukup rutin berolahraga, bukan tipe orang yang doyan junk food dan fast food, bukan juga peminum alkohol atau pemakai obat-obatan tertentu. Sehingga kami yakin insya Allah kami cukup sehat, masalah keturunan kami serahkan sepenuhnya pada Tuhan Sang Penggenggam Takdir. Bahkan suami pernah bilang kalau setelah 2 tahun menikah nanti belum diberi kepercayaan lagi, baru kita ke dokter untuk promil, kalau promil tidak juga berhasil, berarti mungkin Allah punya rencana lain buat kita, bisa jadi takdir kita adalah untuk menolong anak-anak yang kurang beruntung dengan cara mengadopsi mereka (that was sweet of him I almost cry hearing this). Dengan pemahaman itu, kami sepakat menikmati pernikahan tanpa beban dan tanpa membandingkan diri dengan orang lain. Alhamdulillahnya, Allah kasih kehamilan ini saat pernikahan kami genap satu tahun.



Mengawali trimester 2 dengan staycation di Savoy Homann๐Ÿ’— #12weeks


Saat menulis postingan ini, usia kehamilanku 25 minggu dan banyak, banyaaak sekali yang ingin aku bagi di sini, tapi rasanya selain akan sulit dicerna, cerita mengenai kehamilan setiap orang akan berbeda, so I decided to enjoy my own story while you’re creating yours too. Tapi, kalau boleh berkisah aku punya cerita yang sedikit menggungah, waktu itu aku sempat membaca chat suami dan bapak mertua yang isinya bapak ingin suami lebih mengawasiku biar gak kecapean kerja, dan… agar menjauhkanku dari kucing! Aku gak kaget sih, wes biasa, dari kecil aku banyak mendengar mitos tentang kucing dan kemandulan, selain mitos kucing dan jenazah yang bisa hidup lagi (kalo dilompatin bolak-balik). Orangtuaku sendiri sudah mewanti-wanti agar aku mengusir kucing-kucing bahkan sebelum aku menikah dulu, padahal di dunia ini orang yang pertama mengajarkan aku me-rescue kucing adalah mama dan papa. Apakah karena aku sudah dewasa dan organ reproduksiku sudah bekerja lantas kucing menjadi bahaya buatku? Logikanya, orang yang hidup di jalanan akan lebih kebal masuk angin dibanding orang rumahan, begitu juga orang yang sering berinteraksi dengan kucing pasti lebih kebal dibanding yang takut kucing. Kecuali alergi atau ada gangguan pernafasan, itu beda cerita ya.

Setelah tahu obrolan itu, aku jadi takut suami akan membuang kucing kami dari rumah, takut juga kalau suami gak ridho lagi aku suka kucing, kan ridho suami adalah ridho Allah, jadi aku cukup waswas. Tapi setelah dibicarakan berdua, ternyata dia gak kepikiran juga buat buang kucing, kasihan katanya, cumaaa dia minta aku stop gendong-gendong kucing dan meluk-meluk kucing, kucing juga gak boleh masuk kamar dan musholla, tidur di dalam lemari atau sofa. Hmm berat sih, tapi oke deh. Toleransi suami tentu tidak akan serta merta merubah cara pandang orangtua dan mertua, karenanya aku berdoa “Ya Allah, beri aku keturunan hanya ketika aku tidak perlu mendzalimi makhluk-Mu yang lain, dan aku akan sangat bersyukur jika Kau memberiku keturunan ketika aku masih bisa menolong makhluk-Mu yang lain.” Doa ini sering sekali aku panjatkan, karena aku ingin anakku bisa jadi penyelamat lingkungan dan penyayang binatang, terlepas dari apapun profesinya nanti.

 
Kucing-kucing yang sempat kami rescue

Selain doa, aku juga punya perjanjian yang unik dengan Tuhanku, tapi ini bukan lagi tentang kucing, melainkan tentang media social. Waktu itu, aku ingat melihat update beberapa teman tentang keluhan-keluhan kehamilan mereka. Dua-tiga orang di antaranya mengeluhkan badan yang semakin menggemuk, dan aku kaget. Like, aren’t pregnant women supposed to be FAT..?! Kok gemuk hamil dikeluhkan, sih? Kan mau gak mau harus gendut? Kalo gak mau gendut jangan hamil lu ternak lele aja, Bund. Jujur, aku sebal. Dari apa yang aku imani dan sampai saat ini aku pegang teguh, kehamilan adalah rezeki besar, sesuatu yang banyak orang ingin tukar dengan harta melimpah sekalipun, apalagi sebatas dengan tubuh langsing. That’s no big deal.

Sebetulnya aku memutuskan tak akan ambil pusing lagi dengan keluhan kehamilan di circle media social itu, aku gak mau sesumbar, mana tahu nanti aku malah jadi orang yang paling banyak update kalau hamil. Sampai suatu ketika ada yang mengeluh kesal karena pipi tirusnya jadi tembem, aku sontak bergumam gemas pada Tuhan, “Ya Allah ya Tuhanku, aku berjanji dengan nama-Mu, jika Engkau menganugerahi kami keturunan, maka selama kehamilan yang akan kulalui aku tidak akan, tidak akan pernah mengeluh di media social! Seberat apapun kehamilanku nanti.”

Dan ya, 6 bulan telah berlalu sejak aku memegang janji itu..

Karena ternyata tanda-tanda kehamilan muncul tak lama setelah aku mengucapnya ke langit

Ataukah ini memang skenario-Nya? Tuhan ingin aku berjanji untuk kuat dulu sebelum aku diberi kehamilan yang baru?

Ah, Tuhan, aku dan suami amat sangat mencintai-Mu sebelum ini, sekarang bahkan lebih-lebih lagi.

Mungkin karena janji ini juga syari’atnya keluhan kehamilan di trimester 1 & 2 terbilang mudah; aku tidak muntah, tidak susah makan, tidak kesulitan beraktifitas dan masih sering nyenyak tidur. Kalaupun ada keluhan, aku hanya terbuka pada suami, karena suami perlu tahu rekam medic dan riwayat keluhan istri jika terjadi hal-hal diluar kendali. Keluarga besarpun tidak banyak tahu apa saja yang aku rasakan, mereka selalu melihat aku baik-baik saja meskipun tidak selalu begitu kenyataannya. Aku jadi tahu hikmah dari perjanjian ini adalah “pura-pura menguatkan diri di depan orang lain ternyata membantu kita terbiasa menjadi kuat sungguhan” ๐Ÿ˜Š

Sekarang aku perlu siap-siap nih menghadapi trimester terakhir, hu ha hu ha semangat latihan nafas dan semangat berbelanja baby stuff! Yeay!

Oh iya, di bawah ini aku lampirkan foto vitamin dan food supplement yang aku dan suami konsumsi sebelum dan selama kehamilan. Tapi bagusnya, sih, setiap produk kesehatan dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter, ya!

Beberapa minggu setelah keguguran aku mengonsumsi ini, 1 box aja gak nambah lagi

Yang pink vitamin aku selama menunggu kehamilan, yang biru vitamin suami. Yang biru ini beli 1x aja cukup katanya

Vitamin selama masa kehamilan. Yang biru dikonsumsi berdua karena suami juga harus menjaga kesehatan kan!




You May Also Like

0 komentar

Popular Posts