PAP 10: Suami adalah Pemimpin

Pic © Dribble

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh
Sudah tidak terbantahkan lagi peran suami yang paling utama dalam rumah tangga adalah sebagai pemimpin, baik dalam urusan dunia maupun urusan akhirat. Istri dan anak-anak akan selalu mengandalkan suami dan suami harus mampu memberi rasa aman dan nyaman pada seluruh anggota keluarga. Dalam pertemuan kali ini akan dijelaskan bagaimana sosok suami yang ideal menurut Islam. Selamat menyimak!
Session 10
Pemateri: Ust. Mardais
Materi: Suami Adalah Pemimpin

  • Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik (dalam bergaul) dengan keluarganya dan aku adalah orang yang paling baik (dalam bergaul) dengan keluargaku.” Rasulullah adalah contoh kongkret sosok pemimpin keluarga ideal, kita umatnya dapat mempelajari sifat dan perilaku beliau dari buku-buku seperti sirah nabawiyyah dan sirah sahabiyyah.
  • Sementara dalam Al-Quran dijelaskan mengenai potret keluarga Islam yang ideal yaitu QS. Maryam ayat 54-55 yang artinya: “Dan ceritakanlah (Muhammad), kisah Ismail di dalam Kitab (Al-Qur’an). Dia benar-benar seorang yang benar janjinya, seorang rasul dan nabi. Dan dia menyuruh keluarganya untuk (melaksanakan) salat dan (menunaikan) zakat, dan dia seorang yang diridhoi di sisi Tuhannya.”
  • Nabi Ismail adalah leluhur Nabi Muhammad, sedangkan Israil adalah nama lain dari Nabi Yakub yang merupakan putra Nabi Ishaq bin Ibrahim. Nabi Yakub lahir di Kan’an (Palestina), dan awal kebencian orang Yahudi dan Nasrani kepada umat Islam adalah karena nabi terakhir (Muhammad) lahir di Mekah dan bukan lagi di negeri mereka Palestina. Padahal pada zaman dahulu kaum Yahudi merupakan budak-budak dan pembantu sementara umat Islam kala itu menguasai 2/3 dunia termasuk Spanyol/Andalusia.
  • Doa agar dijadikan suami yang baik dan pemimpin keluarga yang taqwa: “Dan orang-orang yang berkata ‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.’” (Al-Furqan:74)
  • Berikut sifat pemimpin keluarga yang ideal dalam Islam:
  1. Bertanggungjawab Memberi Nafkah Keluarga. Menafkahi keluarga dengan benar adalah salah satu kewajiban utama seorang suami dan dengan inilah di antaranya ia disebut pemimpin dalam keluarga. Allah berfirman dalam Al-Baqarah ayat 233: “Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf.” Dalam hadits yang sahih, ketika Rasulullah ditanya tentang hak seorang istri atas suaminya, beliau bersabda “Hendaknya dia memberi (nafkah untuk) makanan bagi istrinya sebagaimana yang dimakannya, memberi (nafkah untuk) pakaian baginya sebagaimana yang dipakainya, tidak memukul wajahnya, tidak mendoakan keburukan baginya (mencelanya), dan tidak memboikotnya kecuali di dalam rumah (saja).”
  2. Memperhatikan Pendidikan Agama Keluarga. Allah Ta’ala berfirman dalam At-Tahriim ayat 6: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” Ali bin Abi Thalib ketika menafsirkan ayat tersebut berkata “Maknanya: Ajarkanlah kebaikan untuk dirimu sendiri dan keluargamu.”
  3. Pembimbing dan Motivator. Seorang suami bertanggungjawab atas semua kebaikan dan keburukan dalam rumah tangga dan ia memiliki kekuasaan, dengan izin Allah, untuk membimbing dan memotivasi anggota keluarganya dalam kebaikan dan ketaatan pada Allah Ta’ala. Rasulullah bersabda: “Ketahuilah, kalian semua adalah pemimpin dan kalian semua akan diminta pertanggungjawaban tentang apa yang dipimpinnya.. Seorang suami adalah pemimpin (keluarganya) dan dia akan diminta pertanggungjawaban tentang mereka.”
  4. Bersikap Baik dan Sabar dalam Menghadapi Perlakuan Buruk Anggota Keluarga. Firman Allah dalam An-Nisa ayat 19: “Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” Rasulullah juga pernah bersabda mengenai keharusan bersabar terhadap anggota keluarga (istri): “Berwasiatlah untuk berbuat baik kepada kaum wanita, kerena sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk (yang bengkok), dan bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah yang paling atas, maka jika kamu meluruskannya (berarti) kamu mematahkannya, dan kalau kamu membiarkannya maka dia akan terus bengkok, maka berwasiatlah (untuk berbuat baik) kepada kaum wanita.”
  5. Selalu Mendoakan Kebaikan bagi Keluarganya. Termasuk sifat hamba-hamba Allah Ta’ala yang beriman ialah mendoakan kebaikan bagi dirinya dan keluarganya. Doa agar diberi keluarga sholeh: “Dan orang-orang yang berkata ‘Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati (kami), dan jadikanlah kami imam (panutan) bagi orang-orang yang bertakwa’.” (Al-Furqaan ayat 74)
  • Cara menghadapi istri durhaka dalam Islam tidak boleh langsung dimarahi atau bahkan diceraikan, sebagaimana telah disebutkan dalam materi pesantren sebelumnya bahwa wanita adalah tulang rusuk yang bengkok, sehingga harus sangat pelan dan hati-hati dalam meluruskannya. Misalnya ketika seorang istri tidak melaksanakan sholat, maka hal pertama yang dilakukan suami adalah menasihatinya dengan lemah lembut, lalu jika tidak kunjung bertobat nasihati dengan tegas, lalu ancam pisah tidur (hal ini karena sholat merupakan kewajiban utama, sehingga suami perlu tegas). Pisah tidur ini bertujuan agar dikala sendiri istri merenungi perbuatannya dan menyesalinya. Setelah itu apabila sang istri tidak kunjung sholat, pukul dia di bagian-bagian yang tidak meninggalkan bekas dan tidak menyakitinya seperti di bagian betis (tidak boleh menampar di bagian muka).
  • Di tangan suamilah baik-buruknya rumah tangga akan ditentukan. Karena itulah menjadi seorang suami bukan perkara yang mudah. Sebagaimana firman Allah dalam An-Nisa ayat 34 yang berbunyi: “Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan arena mereka (laki-laki), telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang saleh, adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka jangan lah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Mahatinggi, Mahabesar.”
  • Taat pada suami merupakan kewajiban istri, sementara suami tidak diwajibkan taat kepada istri. Namun diwajibkan untuk menafkahi lahir batin dan sesungguhnya perbuatan baik seorang suami kepada istrinya mendapat pahala yang besar.
  • Ketika salah satu dari keduanya (baik istri atau suami) marah, maka jangan sampai mengeluarkan sumpah serapah dan perkataan kasar, tapi doakanlah yang baik-baik meskipun itu sangat sulit dilakukan ketika marah.
  • Syeikh Abdurrahman Nashir As-Sa’di menjelaskan dalam tafsirnya: “Laki-laki bertanggungjawab terhadap istrinya dalam hal mengarahkan mereka untuk menunaikan hak-hak Allah, menjaga mereka untuk melaksanakan kewajibannya kepada Allah serta menjaga mereka dari kejelekan. Jadi kewajiban laki-laki adalah menjaga istrinya untuk melaksanakan semua itu. Termasuk juga menafkahi mereka, mencukupi pakaian dan tempat tinggalnya.” (Tafsir as-Sa’di : 177)
  • Seorang wanita harus rajin menuntut ilmu bahkan tidak dilarang untuk mengenyam pendidikan hingga ke perguruan tinggi, hal ini karena kelak wanita akan menjadi seorang ibu dan ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Ibu harus mampu mendidik dan membimbing anak ke jalan yang diridhoi Allah. Semakin pintar/cerdas seorang ibu maka biasanya anaknya pun akan menjadi pintar/cerdas.
  • Sesibuk apa pun suami-istri, keduanya harus meluangkan waktu untuk belajar agama bersama. Agar pemahaman yang diperolehnya juga sama dan saling membimbing dalam implementasi/pengamalan ilmu agama tersebut. Sesungguhnya mengarungi bahtera rumah tangga tanpa ilmu agama akan kelam dan banyak permasalahan yang sulit dipecahkan. Sering kali kehidupan setelah menikah hanya fokus pada pemenuhan kebutuhan duniawi, padahal tujuan menikah adalah mencari keridhoan Allah. Maka kesibukan suami-istri bukanlah alasan untuk tidak pergi ke majelis ilmu, melainkan kemalasan untuk belajar agama yang menjadi kendalanya.
  • Dalam Islam, niat yang baik harus dibarengi dengan perbuatan yang baik pula. Jika perbuatan kita pada akhirnya merugikan orang lain atau mengganggu kehidupan orang lain maka itu menjadi perbuatan yang tidak baik dan tidak disenangi Allah. Contohnya apabila kita berniat membaca Al-Qur’an, namun mengencangkan suara sehingga tetangga kita terganggu dan merasa tidak nyaman, maka mengaji dengan suara pelan lebih disukai Allah. Selain itu apabila kita menggelar acara keagamaan yang sampai menyebabkan terganggunya lalu lintas atau membuat masyarakat sekitar merasa bising. Maka itu menjadi kegiatan yang tidak baik dan mubah, bahkan menuai dosa. Niat yang baik bukan berarti menghalalkan segala cara, apapun kondisinya apabila mengganggu itu dilarang.
  • Laki-laki baligh WAJIB hukumnya sholat di masjid! Dibolehkannya laki-laki sholat berjamaah di rumah hanya ketika ia sakit atau ada udzur yang membuatnya tidak bisa pergi ke masjid. Namun diusahakan setiap sholat laki-laki harus ke masjid.
  • Dua ayat yang membuat Nabi Adam dan Hawa bertaubat (QS. Taha ayat 123-124): “Dia (Allah) berfirman ‘Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Jika datang kepadamu petunjuk-Ku, maka (ketahuilah) barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.’”
Semoga ilmu yang diperoleh pada pertemuan kali ini bisa memotivasi kaum pria untuk belajar menjadi pemimpin keluarga ideal dan tidak malas sholat ke mesjid. Juga bisa menambah wawasan bagi kaum wanita agar kelak bisa membantu suaminya menjadi pemimpin yang lebih baik lagi sesuai qur’an dan sunnah. Sampai ketemu di materi selanjutnya.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Post a Comment