PAP 3: Kriteria Memilih Pasangan Hidup

Pic © Dribble
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh
Agama Islam mengatur segala aspek kehidupan manusia, tidak terkecuali dalam menentukan kriteria pasangan hidup. Seperti apa kriteria tersebut? Simak penjelasan dari pemateri Pesantren Akhir Pekan (PAP) Spesial Pra Nikah Daarut Tauhiid Bandung Ustadz Suherman di bawah ini:
Session 3
Pemateri: Ust. Suherman
Materi: Kriteria Memilih Pasangan
  • Untuk mempermudah pemahaman, kriteria memilih pasangan dalam Islam aku rangkum menjadi seperti gambar di bawah ini, tentunya disertai penjelasan pada poin-poin selanjutnya.
Silahkan di save dan share agar kita semua senantiasa menjadi pasangan dunia akhirat untuk suami/istri kita nanti. Aamiin. Hehe.
  • Perintah Allah kepada manusia hanya ada 2, yaitu yang wajib dan sunat. Begitu pula yang dilarang oleh Allah, hanya ada haram dan makruh. Untuk itu manusia yang taqwa dapat dikatakan sebagai manusia yang mengerjakan perintah dan menjauhi larangan Allah Subhanahu Wata’ala.
  • Lebih detail, ketaqwaan calon pasangan dapat dilihat dari sholatnya, apabila laki-laki perhatikan apakah ia sholat di mesjid atau tidak (terutama shubuh dan isya yang paling sulit), jika tidak maka ia memiliki ciri-ciri orang munafik, karena sholat di mesjid bagi laki-laki adalah amanah Allah. Selain itu perhatikan juga status-status di media sosialnya, perilaku dan pergaulannya serta perkataannya, karena kata-kata mencerminkan hati.
  • Sedangkan wanita dinikahi karena 4 perkara, yaitu hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Yang dimaksud harta di sini bukanlah warisan atau penghasilannya namun bagaimana kecakapan seorang wanita dalam mengelola pemasukan dan pengeluaran sendiri yang mencerminkan apakah wanita tersebut mampu berhemat dan mengelola uang pemberian suami dengan baik. Kecantikan diartikan sebagai pribadi yang menyenangkan hati suami, karena kriteria cantik setiap orang berbeda maka kecantikan wajah tidak terlalu menentukan dibanding kecantikan hati. Yang paling penting lihatlah agamanya, karena salah satu tanda orang yang diberi kebaikan oleh Allah adalah yang pemahaman agamanya baik. Jika seseorang memiliki pemahaman agama yang baik maka masalah dalam rumah tangga akan dihadapi dengan mudah dan sabar.
  • Dalam surat Ali Imran ayat 134 disebutkan bahwa ciri orang taqwa dalam perilaku adalah (1) orang yang berinfak dikala lapang dan sempit, (2) orang yang menahan amarah, (3) yang memaafkan kesalahan orang lain, dan (4) orang-orang yang berbuat kebajikan.
  • Jodoh adalah cerminan diri, oleh karena itu kita harus berlatih menjadi orang taqwa agar pasangan kita kelak seorang yang bertaqwa juga. Jika sebelumnya sering melakukan dosa maka bertaubatlah dan bersihkan diri, sesungguhnya hidayah itu sangat mahal harganya.
  • Yang dimaksud dengan Sekufu (Al-Kafa’ah) ialah sebanding, dalam hal ini berarti sebanding agamanya, kedudukannya, pekerjaan, keturunan/nasab, rumah, kemerdekaan, dan lain sebagainya. Sekufu bukanlah kriteria mutlak, banyak yang menikah dengan kedudukan dan status social yang timpang, hanya saja kerap memunculkan masalah dalam rumah tangga dan keluarga besar. Sekufu dalam hal agama adalah yang terpenting, meskipun berbeda jenjang pendidikan atau garis keturunan, namun jika sama-sama sholeh maka faktor lainnya tidak terlalu berpengaruh.
  • Jenis pasangan yang dikisahkan dalam sejarah ada 4 jenis:
  1. Abu Lahab dan Ummu Jamilah yang sama-sama kafir dan menentang Islam (negatif + negatif)
  2. Fir’aun dan istrinya yang sholeh (negatif + positif)
  3. Nabi Nuh dan istrinya yang durhaka, begitu juga istri Nabi Luth (positif + negatif)
  4. Istri dan suami yang sholeh, seperti istri Nabi Ibrahim dan istri-istri Nabi Muhammad (positif + positif)

  • Allah meyakinkan laki-laki yang belum mapan dengan surat An-Nur ayat 32: “Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.” Masalah harta jangan jadi tolok ukur, perempuan pun dilarang untuk menilai laki-laki dari hartanya, “Celakalah hamba dinar, jika diberi ia senang, jika tidak diberi ia marah.”
  • Jika seseorang baru menjadi mualaf, maka jangan langsung dinikahi oleh kita yang muslim, karena ditakutkan ia adalah seorang missionaris yang hanya berpura-pura masuk Islam.
  • Ayat yang menjelaskan keharusan menjauhi maksiat (At-Tahrim ayat 6): “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
  • Ayat tentang semangat jihad (At-Tur ayat 21): “Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terkait dengan apa yang dikerjakannya.
  • Dalam mengarungi rumah tangga, harus siap dengan segala kondisi karena pasti setiap keluarga akan menemui masalah-masalah.
  • Mandiri dalam ekonomi berarti memiliki nafkah yang biarpun sedikit tetapi halal, jangan sampai penghasilan kita besar tetapi diperoleh dari cara yang haram, karena harta itu tidak berkah dan pasti akan membawa masalah dalam rumah tangga.
  • Doa agar memiliki keluarga bertaqwa dan jiwa yang berkepemimpinan (Al-Furqaan ayat 74): “Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.’
  • Menikah tanpa restu orang tua adalah masalah besar, orang tua yang selalu ikut campur rumah tangga anak juga masalah besar. Dan salah satu cara ikhtiar menghadapi orang tua adalah dengan sabar, sabar, dan sabar.
  • Keutamaan istri yang taat kepada suami:

  • Ketika rumah tangga didera masalah, ingatlah dosa, mungkin masalah itu dating karena dosa-dosa kita di masa lalu, dan bersabarlah. Seorang istri tidak boleh asal meminta cerai. Dan jangan pernah bekata ‘Selalu’ untuk keburukan suami dan ‘Tidak pernah’ untuk kebaikan suami. Contoh “Kamu selalu terlambat” atau “Kamu tidak pernah mengerti.”
  • Wanita yang tidak cantik dari keluarga/lingkungan yang baik lebih utama dibanding wanita cantik dari lingkungan yang buruk (Kharaauddiman). Sementara wanita yang gemar minta cerai biasanya adalah wanita yang juga gemar bersolek. Dan itu adalah ciri-ciri wanita munafik.
  • Dalam berumah tangga urusan keuangan harus sangat terbuka antara suami dan istri.
  • Yang termasuk ke dalam dosa besar pada kriteria lelaki yang tidak layak dinikahi adalah yang melakukan perbuatan zina, mabuk, judi, dan lain sebagainya. Laki-laki yang gila kerja juga disebut tidak layak karena biasanya memperlakukan istri seperti perkakas rumah tangga yang digunakan ketika perlu dan tidak diprioritaskan seperti halnya pekerjaannya. Bahkan laki-laki yang khuruj atau pergi berdakwah dan meninggalkan keluarganya berbulan-bulan juga dilarang dalam Islam.
  • Langkah-langkah setelah kita mempelajari kriteria pasangan adalah:
  • Dalam memperbaiki diri, ingat selalu kandungan surat An-Nur ayat 26: “Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rejeki yang mulia (surga).”
  • Doa agar dimasukan ke dalam golongan orang-orang sholeh/positif (Ash-Shu’araa ayat 83-85): “(Ibrahim berdoa), ‘Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku ilmu dan masukanlah aku ke dalam golongan orang-orang sholeh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan.’”

Sekian materi pertemuan sesi ke-3, sesungguhnya satu ayat dalam Al-Quran bisa dijabarkan lebih banyak dari berlembar-lembar HVS A3, maka dari itu maafkan kalau post tentang pesantrenku makin kesini makin panjang, karena menuntut ilmu memang harus komplit dan berdasar pada Al-Quran dan Sunnah. Semoga bermanfaat 💚
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh 

Post a Comment