PAP 1: Pesantren Pra Nikah...?!

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh
Teman-teman pembaca blogku yang setia, saat ini aku sedang mengikuti Pesantren Akhir Pekan Spesial Pendidikan Pra Nikah di Daarut Tauhiid Bandung. Aku sengaja bikin label tulisan baru ‘Pesantren Lyfe’ khusus untuk kegiatan yang buatku amat luar biasa ini. Total pertemuan di Pesantren Akhir Pekan (PAP) Daarut Tauhiid adalah sebanyak 16 sesi yang masing-masing sesi diisi oleh ustadz pemateri yang berbeda.
Disini, aku ingin berbagi ilmu yang aku dapatkan, meskipun tentu sensasi membaca dengan mendengar pemateri mendakwahkan langsung jauh berbeda, tapi semoga apa yang aku tulis sedikitnya bisa memberi tambahan ilmu bagi teman-teman, terutama yang berencana akan menikah. Hihi
“Kenapa sih mesantren dulu? Nikah mah nikah aja lagi nanti juga belajar”
“Emang udah pasti jodohnya yang itu?”
“Kalo abis mesantren tahunya gak nikah gimana?”
Beberapa pertanyaan seperti di atas aku dapatkan dari teman, dan aku awalnya selalu jawab “Ini kemauan nyokap gue. Udah diem lu.” Sampai hari pertama mesantren tiba, tanggal 17 Februari 2018 bertempat di Ruang Siti Hajar, Gedung Muslimah Center Daarut Tauhiid Bandung, dan semua ketidaktahuan atau kesoktahuanku tentang pernikahan perlahan mulai tercerahkan..
Karena catatanku berupa poin-poin, maka aku juga akan menuliskan materi dalam poin-poin yang dijabarkan seringkas dan sejelas mungkin.
Session 1 
Pemateri: Ust. Mumu 
Materi: Pembukaan dan Pengantar Program PAP
  • Ust. Mumu bertanya “Apa yang terlintas di pikiran Anda ketika mendengar tentang pernikahan atau kata ‘nikah?’” saya jawab “Menghabiskan sisa hidup dengan seseorang” lalu beliau bertanya lagi “Apa motivasi Anda mengikuti pesantren pra-nikah ini?” “Saya ingin jadi istri sholehah” timpal saya lagi. Tanpa menyalahkan atau membenarkan jawaban masing-masing santri, Ust. Mumu melanjutkan dengan menekankan bahwa apapun pandangan kita, motivasi kita menikah, tujuannya haruslah satu, yaitu mencapai Surga-Nya Allah Subhanahu Wata’ala.
  • Apakah mencuci, menyetrika, memasak adalah kewajiban istri? Bukan, tetapi merupakan bakti dan amal sholeh seorang istri kepada suami. Tidak dilakukan tidak berdosa, namun tidak mendapat pahala dan amal sholeh. Sedangkan amal sholeh suami adalah mencari nafkah, nafkah diberikan kepada istri dan istri yang berbakti akan mengolah nafkah tersebut untuk dimakan, dipakai, dan lain sebagainya.
  • Ilmu pra-nikah sangatlah penting, banyak pasangan yang gagal di tengah jalan karena kurangnya ilmu. Tidak sedikit yang berkonsultasi ke Daarut Tauhid tentang rumah tangganya yang berantakan karena tidak dibimbing oleh ilmu agama. Dalam surat Al-Hashr 18: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” Cara mempersiapkan hari akhirat salah satunya adalah dengan berkeluarga, keluarga adalah jalan untuk mencapai keridhoan Allah. Untuk itu perlu dijalani dengan kesungguhan dan membekali diri dengan ilmu agama.
  • “Lebih baik tidak menikah daripada menikah dengan pria yang salah” kalimat tersebut dibenarkan dalam Islam, karena pria sebagai imam yang nantinya akan menentukan apakah keluarga tersebut menjadi baik atau buruk. Begitu besar tanggungjawab seorang imam dalam keluarga, termasuk cara ia membimbing istri dan anak-anaknya juga akan dipertanggungjawabkan di akhirat.
  • Seorang istri dalam kondisi apapun wajib meminta izin pada suami apabila hendak melakukan suatu kegiatan, bahkan ketika suaminya meninggalkan ia dalam waktu yang lama.
  • Sekali ucapan menyerahkan seperti “Aku serahkan engkau pada ibumu” keluar dari mulut suami, maka sudah jatuh talak dan harus ijab qabul lagi. Maka dari itu jagalah lisan kita (suami/istri) agar tidak pernah menyinggung perceraian hanya karena marah.
  • Semua anggota tubuh berpotensi untuk berzina; zina tangan, zina mulut, bahkan zina pikiran pun dapat terjadi. Berzina sudah tentu haram, dan segala sesuatu yang menghantarkan pada keharaman juga hukumnya haram. Maka menikah adalah cara untuk menghindari zina-zina tersebut. Lalu mengapa orang yang sudah menikah ada yang selingkuh atau berzina dengan orang lain? Itulah orang yang kurang ilmunya, dan menikah bukan untuk tujuan mencapai Surga-Nya Allah.
  • Ta’aruf adalah proses mengenal pasangan dengan ditemani pihak ketiga.
  • Jodoh sudah ditakdirkan, tapi kita tetap perlu berikhtiar agar mendapat jodoh yang terbaik. Sabar dalam ketaatan merupakan salah satu cara beikhtiar.
  • Apabila kita bimbang dalam memilih pasangan atau menentukan setiap perkara dalam kehidupan, maka sholat istikharahlah. Tidak ada waktu khusus untuk sholat istikharah namun dianjurkan di waktu-waktu mustajab seperti sepertiga malam terakhir dan waktu antara adzan dan iqomat.
Sekian catatan pertemuan sesi pertama PAP, pertemuan selanjutnya pasti semakin menarik. Semoga bermanfaat J
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Post a Comment