Surat untuk Ina


Ina..
Kamu tahu, hal yang paling Isma gak suka dalam hidup ini adalah 'kehilangan'. Dan Ina memberikan itu dipenghujung tahun yang Isma pikir akan baik-baik aja.
Ina..
Jika sejak 3 tahun lalu kamu didiagnosa penyakit itu, berarti saat foto di atas ini diambil pun kamu sebenarnya udah ngerasain sakit?
Ina..
Ajarin Isma, gimana caranya jadi orang sebaik kamu. 3 tahun menyembunyikan penyakit yang setiap saat semakin memburuk bukan hal yang bisa Isma tanggung sendiri. Tapi kamu..?
Ina..
Kalau boleh jujur, Isma sempet curiga sama kesehatan kamu. Isma tahu kita udah lama gak ketemu, tapi fisik Ina berubah terlalu drastis saat itu. Baiknya kamu selalu meyakinkan dan berusaha menekan kekhawatiran orang lain.
Ina..
Isma minta maaf, setahun terakhir Ina sering nginep di rumah sodara deket rumah Isma, ngajak Isma ketemu, ngajak main, dan Isma gak pernah berusaha nyempetin. Padahal Isma juga kangen. Isma jahat, Isma tahu itu.
Ina..
Sekali waktu Isma ke Jogja lagi, Isma bakal inget setiap momen yang Ina dan Isma habiskan waktu liburan dulu.
Dan lalu Ina..
Setiap kali Isma denger lagu poco-poco Isma juga bakal langsung inget sama Ina, karena Ina -dan temen temen HIPMMU- dulu ngajarin Isma tari poco-poco.
Ina..
Ya Tuhan, Ina..
Isma gak percaya, Isma gak nyangka. Ina baru hari Rabu ini ulang tahun. Dan Isma gak ada di Bandung waktu Ina dibawa ke rumah sakit.
Ina..
Pertama Isma ketemu Ina dulu Isma langsung suka, Ina punya senyum yang manis dan selalu lemah lembut. Isma gak akan pernah lupa kebaikan Ina dan kenangan sama Ina baik senang maupun sedih.
Selamat jalan, Ina..
Semoga gugur dosamu semuanya, sakitmu terangkat dan Ina bisa tidur dengan nyenyak mulai sekarang.
Sampai berjumpa lagi, Risnawati..
(Ternate, 20 Desember 1992 - Bandung, 22 Desember 2016)
Post a Comment