Cantiknya Bromo saat Marah

He had been used to peace and quite for 5 years, and now this.
Belakangan ini pemberitaan di TV lagi marak ngomongin erupsi Gunung Bromo di Lumajang, Jawa Timur yang kian hari aktifitas vulkanologinya makin meningkat. Alih-alih mentaati peringatan untuk tidak mendekati radius aman 2,5 KM dari puncak Bromo, aku malah sengaja mengunjungi ‘Puncak B29’ yang letaknya berhadapan dengan kaldera Bromo. Hal ini bukan kesengajaan, tadinya setelah puas liburan di Malang, aku emang pengen melanjutkan wisata ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru sebelum pulang ke Bandung. Kebetulan saja pas H-1 keberangkatan itu aku dan temanku baru mendapat informasi bahwa kawasan Bromonya ditutup.

Tak patah arang, aku mencari destinasi lain di Kota Malang yang mungkin bisa jadi alternatif kala tujuan utama kami sang Bromo sedang marah-marah begitu. Dari Instagram, aku banyak tahu tempat-tempat keren di Malang dan sekitarnya, tentunya lewat tampilan visualisasi yang dibuat seciamik mungkin untuk meningkatkan rasa penasaran orang yang melihatnya. Dari mulai Kawasan Wisata Coban Rondo dengan air terjun dan taman labirinnya, Madakaripura yang unik, Tumpak Sewu, Museum Angkut+, Coban Pelangi, Puncak Paralayang, Selecta, Jawa Timur Park 1 & 2 dengan Batu Secret Zoo-nya, hingga Alun-Alun Kota Wisata Batu yang dari foto-foto itu terlihat seperti London Eye saat malam hari. Sayangnya, rasa penasaran pada Bromo terlalu besar untuk dialihkan, seperti belum ke Malang saja kalau belum ke Bromo. Akhirnya, aku mendapati hashtag #B29 sedang ramai diposting orang, penasaran, aku lihat foto-fotonya, ternyata cukup bagus. Lokasinya berada di antara Gunung Bromo dan Semeru, dua view sekaligus dalam satu trip. Keputusannya? Oke, kita ke B29!
The night went out.
Start perjalanan dari hotel pukul 1 dini hari. Menggunakan motor trail dapet nyewa dari Kaldera Adventure itu kami menyusuri jalanan Kota Malang yang nyaris sepi ditinggal lelap penghuninya. Tapi di beberapa ruas jalan yang aku sendiri lupa namanya, beberapa orang sudah mulai membereskan barang dagangan, sepertinya menjelang shubuh tempat tersebut akan jadi pasar tumpah. Keberadaan segelintir orang-orang ramah yang mencari nafkah di dinginnya pagi itu sangat membantu kami, karena aku sendiri kesulitan menggunakan GPS, jadi lebih baik nanya-nanya aja sama warga. Percayalah, GPS terbaik adalah penduduk asli, tentu alatnya adalah tutur kata yang sopan saat bertanya.
Akhirnya, setelah sekitar 1 jam lebih perjalanan menyusuri perkampungan dan barisan bukit-bukit yang hening, kami disambut oleh gapura bertuliskan ‘Selamat Datang di Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru’, saat itu waktu menunjukkan pukul 2.30 pagi dan kami lega, setidaknya kami tidak tersesat sebelum sampai ke sini.
“Mau kemana, Mas, Mbak?” tanya mas-mas di pos penjaga tak jauh dari gapura.
“Ke B29, Mas” temanku menjawab. Seandainya kala itu dia menjawab ‘Mau ke Bromo, Mas’ pasti kami sudah disuruh pergi dari tempat itu, karena tak lama setelah kedatangan kami ada 2 pengendara motor lain yang mengaku datang dari Surabaya dan ingin ke Bromo.
“Pada gak lihat berita opo, Bromo wes ditutup masih aja mau masuk, kalo kenapa-napa kan saya yang repot.” Gerutu mas penjaga itu sambil sesekali mebetulkan posisi sarung yang disandingkan di bahunya seperti Miss Universe.
Berbalik menghampiri kami, mas penjaga itu berkata “Saran saya Mas sama Mbaknya mending nunggu terang dulu di sini, bahaya Mas, jalan tuh udah lumpur, sempit lagi, kiri-kanan jurang lho.” Aku tidak mengingat semua wejangan mas penjaga pos, yang pasti dia berkali-kali mengingatkan kami untuk tidak ke Puncak B29 saat hari masih gelap, bahaya buat nyawa, buat motornya juga, biaya tarik motor paling murah 900 ribu kalau mogok. Setidaknya yang terakhir itu yang paling aku takutin, hehe.
Selang setengah jam, terderang iring-iringan suara motor trail dari jauh, disusul cahaya lampu yang berkejar-kejaran dengan bayangan si pengendara. Tak lama kemudian, dari rimbunnya pepohonan muncul 8 motor trail yang berhenti di pos penjaga, mereka parkir dengan rapi. Ketika satu per satu dari mereka beradu pandang denganku dan temanku barulah aku sadar kalau kesemuanya adalah laki-laki. Ya iyalah kayaknya jarang banget ada cewek ngikut bawa trail ke tempat beginian.
Antara takut sama seneng, aku seperti nemu temen, tapi juga gak yakin mau lanjut. Apa yang dikatakan mas penjaga pos itu bikin aku mikir berkali-kali, lanjutin gak nih?
Ketua rombongan trail yang baru tiba tadi ngobrol sama temanku, ternyata mereka ber-8 itu mau ke B29 juga, bagusnya lagi mereka juga baru pertama kali kesana. Seenggaknya kita gak merasa sendirian sebagai orang yang ‘blank’ tentang jalur dan kondisi di sana.
Sekitar pukul 3.30 dini hari, aku mendapati diriku sudah dalam perjalanan menuju B29. Karena ke-8 orang tadi sangat welcome dan friendly, aku lantas teryakinkan kalau dengan pergi bersama-sama kita bisa lebih saling jaga, apalagi aku ceweknya sendiri, mereka janji mau bantu kalau aku kenapa-kenapa. Tapinya, kita terpaksa melewatkan sunrise B29 karena faktor keamanan tadi mengharuskan kita menunggu hari sedikit terang di Danau Ranupane. Setelah sholat Shubuh, baru perjalanan kita lanjutkan.
Jalan sempit di sebelah kiri jalan utama dekat Danau Ranupane adalah pintu masuk menuju jalur B29, panjang lintasan yang harus dilewati ±15 KM. Dari luar kayaknya itu jalan gak ada tembusannya, gelap diselubungi pepohonan besar dan rumput-rumput tinggi. Kami bahkan ragu ada jalan lain di dalam sana, tapi secarik kertas tergantung di salah satu dahan pohon bertuliskan B29 dengan panah di bawahnya mengarah ke kegelapan hutan..
(Biar penasaran) Singkatnya; sampe.
And it was a nice place! Even around on the other side of the mountain would have been good enough. Lots and lots of forest was sitting in between. Wohoooo yeay!
Menuju Puncak B29 jangan dikata gampang, setelah aku ke sana baru sadar orang-orang yang nge-post foto di Instagram dengan #B29 di captionnya itu sudah melewati medan yang segini gila. Mas di pos penjagaan bilang jalannya gak lebih lebar dari ubin keramik, yang berarti cuma muat dilewati 1 motor, kiri-kananya jurang; kiri jurang kaldera Bromo; kanan jurang kaki gunung Semeru, plus medannya banyak lumpur karena musim hujan. Dan semua itu bener! Ciut nyali Adek ngelihat tracknya, Bang :(
Tapi keindahan panorama yang disuguhkan di atas sana mampu membayar rasa lelah dan takut kita tadi, luar biasa, mahakarya Tuhan yang indah banget.. Nengok ke kiri, ada gunung Bromo yang lagi ngeluarin asap pekat dari mulutnya, nengok ke kanan, gunung Semeru yang menjulang tinggi lagi kalem bermandikan mentari pagi. Bikin takjub orang yang lihat. Sekarang aku ngerti, kenapa banyak orang ketagihan naik gunung, they hunt a magic hour like this..
Bersama 8 malaikat penyelamat.











Amateur Dirtbikes Adventure Video by Mas Chonchon Christian (ada kitanya hihi):


Post a Comment