Untuk yang makan di Bebek Kaleyo

"...kalau ada yang lihat anak laki-laki jualan puzzle atau mainan anak di sana, tolong atas nama kemanusiaan dan demi keberlanjutan pendidikannya, kalian beli mainan itu dengan alasan apapun."

Beberapa hari lalu, aku makan di Bebek Kaleyo Cempaka Putih, Jakarta. Berhubung ada dua RM. Bebek Kaleyo di satu ruas jalan yang sama, aku pilih cabang yang di luar ruangan (pinggir jalan). Waktu itu suasana sedang ramai, harus nunggu orang pulang baru kita kebagian kursi, aku pun dapat tempat di jajaran ke-2 setelah wastafel.
Awalnya tidak ada yang menarik, kami mengobrol seperti biasa sambil menunggu pesanan datang, sampai akhirnya mataku beradu pandang dengan sepasang mata binar. Anak laki-laki si pemilik mata itu berdiri di pinggir wastafel, bukan di dalam tempat makan melainkan di luar pagar pembatas Bebek Kaleyo. Hari telah malam dan pinggiran jalan terlihat amat gelap jika kau duduk di bawah sorotan lampu, tapi aku masih bisa melihat dia menyunggingkan senyum padaku, seketika ibaku luruh dan aku mendapati diriku terus memperhatikannya.


Mungkin umurnya sekitaran anak kelas 2 atau 3 SMP, mungkin adiknya banyak, mungkin dipaksa ibunya, mungkin dia dimarahi kalau pulang sebelum jualannya habis, pikirku terus menerka. Sementara aku melihatnya, dia mematung di sana memeluk beberapa lembar kayu tipis berpola yang aku yakini adalah mainan berbentuk puzzle. Setiap ada pengunjung Bebek Kaleyo yang selesai makan dan hendak mencuci tangan, anak itu menghampirinya ke dekat wastafel, bibirnya terlihat berkata-kata tapi tak terdengar. Orang-orang yang sibuk membasuh tangan hanya mengangguk, ada yang ditambahkan senyum, kebanyakan bahkan tak menggubris sama sekali.

Malam itu dia mengenakan celana pendek berbahan jeans, switer hitam tipis, sendal jepit dan tas gendong besar. Aku pikir dia pulang sekolah langsung jualan, terlihat dari tasnya yang kembung menandingi badannya yang kurus. Dia berkulit sawo matang, berambut cepak ala siswa sekolahan, perangainya biasa, tapi sopan santun dan rasa segan terlihat jelas dari gesturnya. Dia berjalan menghampiri para pengunjung yang sedang cuci tangan itu dengan setengah membungkuk, apabila dia tak dihiraukan, dia tersenyum pada pembeli-tidak-jadi itu dan kembali ke posisi berdiri semula.

Aku suka makanan di Bebek Kaleyo, porsinya besar dan rasanya luar biasa, tapi aku tidak bisa menikmatinya dengan baik. Kalau ada pihak dari Bebek Kaleyo yang baca tulisanku ini, aku tidak minta anak kecil atau pengamen atau siapapun yang ikut mencari rezeki di situ diusir. Ketidaknyamanan ini murni karena aku tidak bisa melihat orang, apalagi anak kecil, harus berjualan malam-malam sementara saat seusianya aku tidak mengenal cari uang. Di Bebek Kaleyo malam itu aku menunduk meneteskan air mata, tanganku kusibukkan mencubit-cubit daging bebek agar yang lain tidak menyadari pipiku basah. Aku menunduk setunduk-tunduknya, takut anak tadi melihatku lalu tersakiti, aku tidak bisa memberi banyak, tapi malam itu dengan sungguh aku doakan semoga dia jadi orang sukses nanti.

Untungnya aku tidak sendiri, ibunda pacarku juga ternyata memperhatikan dia, mungkin setelah aku bilang pada pacarku bahwa aku kasihan padanya, beberapa orang di meja ikut menoleh tapi aku pikir tidak ada yang se-sensitive aku. Saat wastafel kosong, ibu pacarku menghampirinya, aku paksakan mataku yang basah untuk melihatnya (sembari berdoa semoga tidak ada yang melihatku). Terlihat beliau menjejalkan uang ke tangan anak itu, dia langsung membungkuk tanda terimakasih, mata sayupnya langsung berbinar lagi, mungkin jarang ada yang memberi tanpa membeli puzzlenya. Anak itu hanya tidak tahu kalau kami bukan orang Jakarta, mungkin itu sekali-kalinya kami bertatap muka.

Ibu pacarku kembali duduk, "Katanya dia sekolahnya siang" lanjutnya. Aku menarik nafas lega, seolah menjawab keingintahuanku kalau anak itu memang tidak putus sekolah. Suatu saat kalau aku sudah kerja, dan gajiku besar, aku tak akan ragu memiliki banyak anak asuh. Semoga kalian juga..

Akhirnya kami beranjak dari kursi, anak itu memandang dari kejauhan. Tersenyum malu sambil membungkuk lagi dan lagi saking hormatnya. Aku ingin menghampirinya dulu, tapi takut malah nangis. Aku doakan saja semoga dia tidak harus selalu begadang untuk ini..


Jakarta, 24 Juni 2014
Post a Comment