Makanan itu bilang "Try me!"

Blog reader, pernah gak nyobain makanan yang asing dan aneh? Se-asing dan se-aneh apa makanan itu? Apa yang membuatnya aneh, rasanya? Namanya? Cara penyajiannya? Atau semuanya?
Sekarang ini aku lagi mau berbagi cerita tentang beberapa jenis makanan yang kedengarannya lumrah dan biasa aku temukan sehari-hari. Tapi ternyata cara penyajian dan rasanya luar biasa aneh buat aku.
Oke, saat ini aku lagi di daerah Puyuh Dalam, Bandung. Tepatnya di rumah kontrakan temen-temenku yang berasal dari Maluku Utara (Ternate & Tidore). Mereka selalu senang menyambut orang baru, bener-bener welcome, tiap aku ke sana mereka selalu riuh dan langsung mempersilahkan masuk lalu heboh nyiapin makanan. Aku terharu, di sini aku bukan siapa-siapa, jangankan keturunan Ternate/Tidore, meskipun mahasiswi perencanaan wilayah aku gak begitu tahu percisnya Ternate Tidore dan Halmahera itu sebelah mana Sulawesi, tapi mereka menganggap aku seperti keluarga sendiri, kalau ada acara kumpul mereka ngehubungin biar aku dateng, bahkan acara internal mereka pun seperti liburan atau acara adat lainnya aku juga diundang.
Rencananya mereka mau bikin pisang goreng dan minuman khas Maluku Utara (dikenal dengan nama Goraka), makanya aku ditahan-tahan gak boleh pulang, sampe kunci motor Thossan disimpen sama mereka biar kita tetep di rumah.
Setiap kunjunganku ke sana, aku punya banyak cerita baru, especially tentang watak dan pola pikir mereka, aku menilai-nilai sendiri selayaknya orang baru di tengah komunitas yang mendominasi. Aku beradaptasi, dengan watak dan pola pikir seperti itu aku harus bisa menyesuaikan sikap. Bagaimana pun di sini aku orang 'asing' yang mendapat kasih sayang mereka.
Kembali ke acara makan-memakan, tibalah waktunya cewek-cewek di rumah itu (iya, cewek-cowoknya serumah) untuk melakukan kegiatan masak-memasak makanan & minuman khas yang biasa orang tua mereka sajika turun temurun. Cewek-cewek ini ada Itha, Ina, Thika, Ikha, dan Ani. Mereka tiap hari menyajikan makanan untuk orang rumah, sungguh mandiri sekali, berbeda jauh dengan si Isma yang dari bangun tidur sampai tidur lagi terus dibantuin sama Teh Yanti.
Ini foto-foto selagi mereka masak, bahkan untuk sekedar ngebantuin ngupas pisang aja aku gak diizinin. Ya udah jadinya aku cuma nonton aja.






Jangan ragu ngasih makan orang Timur, bikin pisang goreng untuk serumah aja gak cukup satu sisir. Aku sampai kaget lihat mereka ngupas pisang segini, di rumah aku mungkin bisa untuk sebulan cuci mulut. Salah satu temen mereka malah bilang kalau masak mie gak cukup 2 bungkus, biasanya kalau 24 bungkus untuk ber-5. Gilaaa.

Yang aneh dari 'pisang goreng' anak Timur ini, mereka menyajikannya pakai sambal dabu-dabu yang biasa kita temukan di kudapan seafood.


Pisang goreng ini katanya selalu tersaji berpasangan sama minumannya yaitu Goraka. Di Sunda kita sebut Bandrek, gak ada bedanya, pokoknya rasa bandrek banget. Hanya cara penyajiannya yang aneh, jadi orang Timur sana kalau makan bandrek di gelasnya ditabur kacang goreng. Tahu rujak uleg Betawi? Nah kacang yang biasa dipake di rujak uleg itu yang dipake temen minum Goraka. Aneh kan, mungkin supaya ada sensari kriuknya.


Dan pada waktu yang sudah sangat larut (sampai-sampai aku sudah tidak bersemangat lagi mencoba makanan itu), siaplah seluruh menu tadi untuk disajikan. Maklum pisang gorengnya banyak, bahan sambelnya banyak dan mereka bikin Goraka yang banyak juga.










Sekian pengalaman mencicipi kuliner aneh hari ini. Meskipun awalnya aku ogah-ogahan buat nyoba, tapi makanan itu seolah bilang "Try me!" dan ternyata rasanya tak seaneh yang aku bayangkan sebelumnya.
Post a Comment