a sorrow leave an imprint on me


"Untuk sekedar tahu kapan sebuah dukacita tersembuhkan… aku harus menunggu satu tahun lamanya dan ternyata jawabannya lebih lama dari itu, dari ini, dari saat aku menulis ini dan mungkin sampai itu nanti..."

Selalu saat aku di tengah banyak orang, selalu ketika aku bersuara dan tertawa riang, Tuhan dengan caranya yang unik dan eksentrik memutarbalikan keadaan dalam beberapa detik setelah kabar kematian kakek mengiris pendengaran dan menjebol seluruh pertahanan seorang gadis kecil akan air mata dan ketegarannya…

20 Desember 2007 (aku – 3 SMP), tengah berdiri membungkuk menyambungkan kabel-kabel RTP sebagai simulasi ujian praktek pelajaran TIK, cuaca sedang panas dan seseorang mengetuk pintu di sebelahku dengan suaranya yang lembut mendamaikan mengucap salam. Ibu Tintin namanya, dia tidak mengajar di kelasku tapi aku tahu hari ini beliau piket. “Ada Isma?” aku berdiri dan bu Tintin menghargai kesigapanku dengan senyuman, “Sini, nak” sebelah tangannya menarikku keluar kelas, gemetar, bu Tintin gemetaran menggenggamku. Sekalipun itu guru paling ramah, aku tidak berniat memulai percakapan, kutunggu mulutnya terbuka dengan bergetar “Sayang, kapan terakhir ketemu kakekmu?” Sialan, batinku menjerit. Aku sudah cukup pintar untuk menebak keadaan, cara bicaranya, tatapannya, dan genggamannya tadi sudah cukup membuat aku tahu dia membawa kabar buruk pagi itu. “Tadi pagi sebelum sekolah juga ketemu, Bu. Isma tidur di rumah sakit semalem…”, “Maafkan ya keluargamu tidak mengabari langsung, tadi mamanya Isma nelfon ke ibu, katanya… kakek menginggal…” seseorang keluar dari balik tangga dan berlari ke arahku “Neng Isma! Neng kuatin, neng! Ayo pulang ya, neng, amang di suruh jemput secepatnya” aku ambruk, tapi masih kuat untuk tersadar, bertubi-tubi pelukan teman-teman menghimpitku yang tengah sesak. Aku bilang aku baik, dengan harapan mereka melepaskan pelukannya. Aku masuk kelas, sebagian temanku membereskan alat tulis dan aku tinggal mengambil tas yang siap bawa. Samar-samar dari balik cucuran air mata kulihat jam dinding tepat menusuk di pukul 09.00. Itulah hari Kamis paling menyakitkan, dimana untuk pertama kalinya aku harus kehilangan ayahnya papaku…

11 Juli 2010 (aku – 3 SMA), dengan santainya melangkahkan kaki-kaki kecilku melewati gerbang sekolah di hari Minggu, cuaca yang mendukung jadi alasan utama aku ikut latihan Taekwondo hari itu. Tapi siapa mengira, setengah jam setelah latihan dimulai aku kembali dicambuk pilu oleh Tuhan… Waktu istirahat tiba dan aku jadi orang pertama yang berlari ke tempat botol minumanku bertengger, cuacanya berubah panas dan mendadak aku ingin pulang. Kurogoh tas mencari ponsel, berharap ada morning greetings atau sekedar sms nyasar dari orang yang aku sayang. Kebetulan saat itu ponselku bergetar, nama kontaknya ‘mami ♥’ dan langsung kuangkat… “Dimana, Sayang? Cepat pulang, Nak. Kakek meninggal… pulang ke Cieunteung ya, ke Bandungnya sama om, mami udah di jalan…” mami terisak keras dan aku tak ingin mendengarnya lebih lama, ku tekan tombol reject dan munculah banyak panggilan tak terjawab dengan beberapa pesan dibawahnya. Kembali, dalam samar-samar pandangan kulihat jam analog ponselku menjunjukkan pukul 09.00. Aku mulai menangis kencang, dua memori kematian akan dua kakek tersayangku hadir dan hampir merenggut kesadaranku. Tak ada yang menjemputku seperti saat SMP dulu, aku harus pulang sendiri dan seharusnya aku tidak boleh terkulai di depan teman-teman yang masih latihan… aku di antar teman sampai rumah, dengan masih berpakaian sama aku alami perjalanan ke Bandung paling memilukan seumur hidup. Semua keluarga di mobil mencoba menghiburku, konyol, tak ada yang merubah keadaan. Suara nan ikhlas di seberang sanalah yang cukup menguatkanku, nama kontaknya ‘♥ iyang’ dan dia bilang kakek meninggal dalam damai dan menyunggingkan senyum, iyang juga bilang kakek sudah sampai di rumah duka, mami, papa dan adikku juga sudah sampai.

"Kalian tahu rasanya kehilangan? Sakit, bukan? Kalian pernah bertahun-tahun dalam penyesalan? Aku beri tahu, rasanya lebih sakit dari yang kalian akan bayangkan. Dua kali dan hanya akan ada dua kali waktu aku kehilangan kakek dan kesemuanya tidak pada saat aku di samping mereka, menemani saat-saat terakhirnya dan mengecup keningnya untuk terakhir kali… rasanya aku menjadi cucu paling berdosa yang pernah mereka timang dan ajak jalan-jalan… aku tidak punya kakek lagi, Tuhan menyayangi mereka dan mengambilnya dari orang sepertiku… aku tidak punya guru besar lagi, mereka telah sukses dalam hidupnya dan tidak punya waktu melihatku sukses nanti… I believe Lord blessing them ♥"
Post a Comment