I remember...

Satu hari jelang Ujian Nasional, lazimnya aku hibernasi mengurung diri di ruang rahasiaku dan belajar dengan tekun. Tapi, bukan Isma namanya kalau melakukan hal yang dilakukan orang-orang mayoritas, meskipun jadi bagian dari golongan minoritas tidak selalu berdampak positif. Lalu?
Sabtu malam itu sebenarnya aku udah niatin mau keluar, tapi belum bikin planning karena gak tahu mau keluar sama siapa dan pergi kemana dan juga gak berani berharap mami bakal ngizinin aku main sehari sebelum UN. Di sini, yang tak disangka-sangka terjadi… dan mami justru dengan senang hati mengizinkan...

“Kamu ngilang!”
“Aku atau kamu yang ngilang?”
“Idih, kamu tahu yang ngilang! Mentang-mentang gak bisa bangunin shubuh lagi!”
“Kamu juga! Sibuk apaan, sih, belakangan ini? Oke, besok dibangunin lagi.”
“Enggak sibuk apa-apa kok. Besok libur, tadi hari terakhir UTS. Lagi apa kamu?”
“Oh, jadi gak perlu dibangunin shubuh dong. Lagi nulis. Kamu? Lagi sms-an ya?”
“Iyalah kan sms-annya juga sama kamu.”
“Sama aku atau aku salah satu diantaranya?”
“Diantaranya!?! Karena pasti kamu juga kayak gitu sekarang.”
“Enggak, aku cuma sama kamu aja kok, emangnya kamu!”
“Udah deh! Eza besok balik, kamu bisa main keluar gak sama Eza?”
“Besok? Bisa, bisa! Bener ya pulang ya!”

After that, a heaven getting closer, the world being nicer and I just keep waiting for Saturday with smile… the day comes too late.
First vacation at all, setelah menjajah food court Mayasari Plaza, kita nonton di 21. Pikir-pikir sebentar, akhirnya film berjudul Dedemit Bukit Kidul lah yang kita pilih. Sebenarnya dari awal Eza bilang pengen film ber-genre action, Centurion judulnya, tapi pas kita sampai kebetulan filmnya lagi main. Lagian aku kurang suka film action tapi banyak perangnya kayak gitu, sadis pasti. Jadinya Dedemit Bukit Kidul deh, meskipun harus nunggu 30 menitan sampai theatre 4 dibuka.
Sore itu yang aku lihat semua film yang lagi now playing di 21 masuk kategori (D) alias dewasa, tapi gak kepikiran film horror yang judulnya ada dedemit-dedemitan ini dewasanya bener-bener ‘dewasa’. Frontal, vulgar, over act! Keluar theater 4 aku bener-bener nyesel milih film ini, kayaknya Eza juga gak begitu suka meskipun banyak adegan cewek panasnya. “Maaf ya, Za. Aku seenaknya pilih film, lain kali ngikutin maunya Eza deh ya! Hehehe”

Then…
No, no, I will not explain everything we’ve done together during Saturday night, you should know it would too much words and I can’t express word by word here. Pokoknya, aku pulang ke rumah sekitar jam 8 malam lebih sedikit. Soalnya dalam perjanjian aku sama mami, aku boleh main sama Eza asalkan pulang jangan lebih dari jam 9 malam, jam 8 lebih bagus malah, katanya.
Dari sekian banyak foto yang taken 16 April itu, aku publish dua foto aja ya;
 Ngomong-ngomong itu piring ludes amat atasnya, hahaha

Berasa narsis sendiri -__- By the way bus way, lihat foto ini aku jadi sadar ternyata kita pakai baju samaan lho, padahal aku gak bilang mau pakai jaket hijau sama kaos putih, eh, Eza juga pakai jaket dan baju yang sama banget warnanya. Of course, it means nothing. Hihi.

Afterall, I’m finding hard to believe when I lay down my head into his arms, I felt so delighted. How comfort that feel is, how sweet that taste is… I will never ever let that be so negligently and dangerously wasted and surely nothing else can change. If I could be allowed to continue in this way, I wanna hold his hand anywhere and anytime, that’s will be my behavior very soon, hehehe.

NB: Tahu lagu Mocca yang judulnya ‘I Remember’? Itu adalah lagu yang pertama kali Eza tawarin saat aku pertama kalinya juga minta dia nyanyiin lagu pengantar tidur, makanya ini posting judulnya ‘I remember…’ (sebenarnya aku bingung mau ngasih judul apa lagi :d)
Post a Comment