April 4th 2007-2011 (no hope)


Tanggal empat bulan empat tahun ini, adalah juga merupakan tahun keempat meninggalnya teman masa kecil, putra bungsu Pak Erwin seorang karib papaku, kapten team sepak bola di SD tetangga, dan yang selalu mengingatkanku pada kisah ‘cinta monyet’ semasa SD dulu sekali, namanya Muhammad Sutan Sena. Aku, kita teman-temannya, biasa memanggil dia Adik.
Seperti kian banyaknya pepatah yang bilang “dimana ada pertemuan disitu ada perpisahan”, atau “semua yang hidup pasti mati”, ada juga “biarkan orang-orang dalam hidupmu datang silih berganti”. Tapi di sini aku yang merasakan! Kepergian Adik yang tidak wajar membuatku terkaget-kaget dan sedikit hilang akal selama beberapa bulan. Ini benar terjadi, teman-teman di SMP yang jadi saksinya, mereka terheran-heran juga dengan perubahanku karena ini, katanya aku berubah pendiam, lebih sering menunduk dibanding menatap ke depan dan aku rasakan sakitnya kehilangan itu begitu jelasnya terasa, sakit, sangat sakit.
Adik sebaya denganku, saat Adik meninggal aku masih kelas VIII SMP yang artinya Adik juga masih sangat muda untuk mengalami hal naas itu.
Tapi sepertinya hal ini tidak perlu aku ungkit terlalu jauh, empat tahun berlalu, empat tahun juga Adik belum sempat hilang barang sebentar dari ingatanku, begitu jelas wajah lucunya saat bermain sepak bola di GOR sekolah, begitu jelas senyumnya setiap bertemu denganku dan aku selalu ingat saat teman-teman semasa SD dulu menyoraki aku dan Adik seolah-olah kita ini sepasang kekasih. Konyol, tapi benar-benar cinta monyet yang utuh hingga kini…
Tak hanya di angan, empat tahun sudah Adik tertancap di styrofoam dinding kamarku, bukan menjelma manusia dengan bola sepak dan kepala pelontosnya, melainkan dalam bentuk potongan kertas koran…

Ini warna asli kertasnya, menguning seperti karat...
NB: Pada tanggal 4 April 2011 ini juga telah meninggal guru Biologi SMP-ku dulu, Bu Hj. Tintin, yang baik, yang penyayang, yang selalu aku hargai dan kasihi. Selamat jalan, bu.

Post a Comment