you really get to my nerves!


"Atas dasar apa, sih, statement-statement yang ada di pikiran kamu itu?"


Seminggu terakhir ini sepertinya cuma pertanyaan itu saja yang berkemelut di benakku, bahkan dibandingkan soal-soal Ujian Sekolah yang merongrong dan menguras habis konsentrasi, aku masih sempat-sempatnya mencari-cari jawaban akan pertanyaan itu di sela-sela waktu makan atau bahkan menjelang tidur!
Tapi dipikir-pikir ngapain ya dipikirin, toh dipikirin juga gak akan kepikiran, malah kayaknya orang yang bersangkutan juga gak mikirin apa yang terjadi setelah dia ber-statement kayak gitu, tapi anehnya kenapa aku musti repot-repot mikirin? How long do you think it will last? Memang sih, buktinya sampai sekarang juga masih kepikiran…
Untuk itu aku berinisiatif aja bikin surat di postingan kali ini, karena sumpah ya demi apa pun juga aku gak mau statement itu bertahan lebih lama di benak kamu, it really get to my nerves…

Dear ***k,
Aku gak beharap kamu baca surat ini, aku bahkan sebenarnya gak pengen ada orang yang baca ini (apalagi temen-temen kamu), meskipun aku tahu kamu selalu visit blog ini kalau lagi online.
Kamu tahu kan, kita kenal sudah dari waktu yang lama, aku kenal kamu sangat jelas dan kamu tahu aku dengan baik, terlebih atas hal-hal yang pernah terjadi antara kita, aku simpulkan kita saling mengenal seperti mengenali diri kita masing-masing… begitu jelas.
Lantas apa sih yang bikin kamu ber-statement ‘pokoknya aku tuh kotor lah buat dia, aku ngerasa gak pantes!’, apa? Kesambet kali ya kamu bisa punya pikiran kayak gitu?
Aku tahu kita masing-masing tengah berdua, kau punya diaK, aku pun punya diaR, tapi seolah kamu ngerti aku, kamu gak publish relationship itu, seperti aku yang kadang-kadang merasa lebih baik tanpa hubungan apa-apa di akun facebook punyaku (jangan tanya resikonya, gede banget!)
Sepertinya semua hal yang terjadi antara kita adalah pengecualian dari segala bentuk kesetiaan yang aku pegang teguh saat ini, dengan senang hati aku dengarkan ocehan teman-teman tentang kita, tentang apa yang pernah kita lakukan saat kedewasaan belum ada, saat kita masih zaman-zamannya jadi ABG yang pengen tahu apa-apa dan pengen nyobain semuanya, buat aku itu menyenangkan untuk di ingat. Kamu tahu gak? Teman-teman kita itu seolah jadi video recorder buat aku, saat mereka berceloteh disetiap kesempatan kalau aku dipertemukan dengan kamu, mereka membuatku flashback kala itu juga, ber-apparate ke tempat dimana banyak warna-warni kisah yang pernah kita torehkan.
Dan kamu mengeluarkan statement seperti itu, bikin aku bengong kambingungan tahu gak? Dulu saat masih sama-sama sendiri, aku memang sempat bertanya dalam hati, kenapa kok gak ada tindak lanjut dari kamu untuk memperjelas hubungan kita? Kenapa kok kamu tuh kayak yang kebanyakan mikir gitu? Dan ternyata, saat kita telah lama berpisah pandang dan senyum sapa, statement itu muncul ke permukaan dan menjadi nyata saat kulihat ponsel temen kita, sakit tahu rasanya! Kamu begitu bodoh untuk aku kala statement itu berkali-kali kubaca. Pikiran kamu pendek, hati kamu dangkal, dengan bilang begitu kamu pikir aku merasa menang? Buat aku gak ada yang harus dibilang kotor dari diri kamu, bertahun sudah aku kenal kamu, mungkin iya pas SMP dulu kamu sedikit badung dan playboy (banget), tapi kan sekarang gak gitu? Kalau kamu baca surat di postingan ini, aku minta kamu tarik lagi ya statement kamu itu, kamu gak kotor, aku juga gak sesuci yang kamu pikirin, kita bisa tetap memutar video recorder itu bersama, dan…
Biarkan waktu yang membuatnya indah.

Regards,
Isemmh
Post a Comment