3:27 a.m.


3:27 a.m.
Aku kira cuma seorang pengangguran yang tega bangunin orang di pagi buta kayak gini, saat ternyata ponsel kesayanganku berdendang nyaring dan terus menggeliat-geliat mengerikan di pinggir tempat tidur, redup-terang redup-terang dia menyala-nyala tanpa saingan di kamarku yang dibuat gelap tanpa lampu tidur. Lama. Lalu sunyi. Haha, aku tertawa dalam hati, mungkin si penelfon itu berpikir aku akan mudah dijahilin. Sialnya saat pikiran untuk tidur lagi datang, ponsel sialan itu kembali berdenyit keras, eh, yang sialan kan yang nelfon! Kembalilah ringtone Maroon5 - Misery itu berkonser ria di sunyinya malam, mungkin pagi, bukan malam lagi. Emosiku tersulut seketika, aku pun berusaha meraihnya dengan hanya kesadaran yang 25,786%.
"HALLO!!" tanpa tahu siapa-siapa yang akan merespon teriakanku, aku tetap bergeming dalam keyakinanku bahwa membangunkan orang jam segini adalah tidak sopan, apa pun alasannya! Betul kan? Lalu suara di seberang sana membalasnya dengan cekikikan, gak lucu banget tahu gak sih, rutukku dalam hati. Terdengar lagi suara "Kamu berdiri lalu kayang kan belajar palingan hangus", "Hah? Gak sopan banget, sih!", samar-samar suara itu sepertinya gak aneh lagi buat aku untuk dikenali, tapi karena ngantuk dan jengkel, jadi harap maklum! "Gak sopan apa? Aku cuma ngingetin, belajar gih! Tidurnya udah dari jam 8, kan?", "Ulangi tadi kamu ngomong apa?" "Apa? Kan bener kan kamu sendiri yang bilang belajar jam segini tuh paling bagus?", "Oh", kesadaranku increase menjadi 50% saat itu. Ku lihat layar ponsel, tuh kan, di sana tercantum nama kontak dari satu nomor yang paling memungkinkan berbuat sejahil ini sama aku, dia, gak usah disebutinlah, semua orang tahu betapa aku selalu mengharapkannya ada. Bahkan, saat pertama kali aku mengenalnya, 3 tahun silam... Kala itu, eh, kok jadi flashback gini? Stop! Stop!
Kisah berlanjut, aku putuskan mengakhiri perbincangan tak berjudul itu dengan maksud aku gak mau marah-marah, gimana pun maksudnya baik, kan? Lalu, di akhir perbincangan itu juga, ada tiga kata yang sukses bikin aku terbangun sepenuhnya, ternyata lebih dari sepenuhnya, ternyata lebih dari 100% dan bahkan tiga kata itu mampu menyunggingkan senyum di atas kumel kucel dan dekilnya mukaku pagi itu. Betapa hanya kalimat itu yang selalu aku tunggu dan aku panjatkan pada Tuhanku.
Ada sedikit rasa sesal saat aku harus mengakhiri obrolan pagi itu demi membiarkannya tidur kembali, terlebih saat kudapati kamar tidurku berubah menjadi sepi dan dingin. Berangsur-angsur rasa kantuk itu hadir lagi, tapi aku udah janji mau belajar, apalagi tadi si tukang jahil mengingatkan aku atas masalah yang terjadi antara aku dan papa. Aku berjanji, minimal kali ini aku gak akan membuatnya kecewa lagi kalau melihat nilai Ujian Sekolahku jeblok-jeblok seperti telur unta atau telinga monyet (amit-amit sangan sampai!). Tanpa banyak mikir lagi aku turn on joybook BenQ kesayanganku, setiap kali hendak menggunakannya aku selalu teringat papa, aku yang belum bisa membuat papa bangga akan aku, tetap selalu mendapatkan apa yang aku inginkan dari papa, papa memfasilitasi aku lebih dari yang aku butuhkan, papa menganggap apa yang aku ingin adalah keinginannya juga. Betapa perih hati ini saat ingat kejadian yang membuat papa meneteskan air mata karena aku. Sakit rasanya.
Tak terasa sudah pukul 5 pagi saat aku meregangkan badan dan menarik kendur otot-ototku yang semula tegang, aku pastikan lagi kalau semua materi biologi dari kelas X sampai kelas XII sudah terjejal muat di otakku yang hanya bervolume sekitar 1200 cm³ (enggaklah emangnya Sinanthropus Pekinensis!!). Aku tergerak untuk mengirim pesan pada si jahil, aku laporan bahwa aku sudah belajar sungguh-sungguh pagi itu dan tak lupa mengecup, eh, mengucap terimakasih yang amat banyak seluas angkasa untuknya yang bela-belain pasang alarm jam 3 pagi. Hihihihi~ Selanjutnya? Ya aku mandi selama 45 menit, makan sekitar setengah jam, dan pergi ke sekolah sama si ebi, temanku.
Tahu gak? Bahkan kebahagiaan terindah sekali pun bisa terjadi sebelum waktunya kamu bangun dari tidur, maka dari itu percayalah pada yang namanya Kuasa Tuhan akan Cinta yang Bukan Cinta Monyet!
NB: Tadi di kelas yang aku tempatin buat Ujian Sekolah ada kejadian mistik lho! (o.O) Sumpah demi apapunlah aku gak bohong! Aku cerita dikit ya, intinya pas lagi istirahat aku sama BFF ngumpul di kelas aku, kita lagi rame-ramenya ngobrol tiba-tiba ada yang manggil nama temen aku si Iman, si Imannya juga denger tuh, tapi gak ada yang ngaku. Suara yang manggilnya cewek, dari barisan meja paling belakang, aku pikir temen aku si Kikeu yang manggil, tapi dia gak ngaku, emang sih suaranya ‘gak Kikeu banget’ lagian dia lagi makan, tiba-tiba suasana jadi dingin dan aku keinget cerita dari kakak aku tentang kelas itu dulu-dulu banget :( Kalo kata si dokter tuh hantu ngecengin si Iman, tapi udah pasti gak mungkin lah ya! Mami, udah ah gak mau ujian lagi :p
Post a Comment