how bad my fault?

okay! okay! I know peoples aren't always do forgive to others or someone nearby who has a mistake... but do you know what I feel when I ask for forgiveness?


Aku hanya bisa tersenyum kecut dengan setumpuk rasa kesal dan amarah, aku pikir percuma menangis kalau tak membantu dan hanya memperburuk suasana. Lebih dari berhari-hari aku berpikir oh mungkin ini teguran dari Tuhan agar aku tidaklah egois lagi, agar aku tak usah lah seenaknya lagi, atau ini semua ujian dari Tuhan untuk aku agar bisa jadi pribadi 'balance' dalam segala hal, setidaknya kesalahan dan kebaikan tidak timpang.
Saat aku setia, aku rasakan dunia hanya berwarna pink dan biru, cukup membuat senyum dan bahagia, belum sempurna memang jika belum terikat pernikahan. Waktu berjalan dan dunia jenuh dengan pink dan birunya yang memudar menjadi abu, disanalah mungkin ujian terahkir hingga kini karena aku tak mengecap lagi kesempatan untuk berbuat salah.
Maaf, maaf, dan bermacam jenis permohonan maaf terlontar, ah rasanya aku yang memintanya saja sudah lelah dan tak tahan apalagi dirinya yang ku jejali janji dan kata sesal. Aku diam, tapi hati terus menjerit meronta aku berusaha berkeringat darah dan berpeluh air mata untuknya, tapi nihil. Raga ini dengan bodohnya tak berkutik melihat kelupas kekesalan masa lalu yang masih ternyanyikan semu oleh sesosok manis. Sampai lemas aku mengingatnya.
Entah sebagian sisa sayang atau sekedar rasa iba dirinya meminta aku berdiri dan pergi, senang bukan harusnya aku ini? Tertuduh yang dibebaskan tanpa syarat yang seharusnya mengiris-iris nadi sendiri karena kesalahan fatal yang membahayakan diri dan membunuh karakter seseorang ini? Aku bisa tersenyum kini, dengan bibir tersungging picik aku bilang ini mudah dilewati, sejenak aku mengangkat dagu aku bilang banyak kisah menantiku dibalik pintu hati yang terbuka ini...
Tapi tak urungnya aku menghela nafas berat, serasa terlalu beruntung aku dilahirkan tanpa resiko dan tanpa jerih payah untuk memperbaiki sebuah kekhilafan, sampai detik ini masih saja ada  bagian dari aku yang tak dimengertinya, aku bisa kok berubah, aku bisa menyederhanakan diri, karena pada dasarnya aku arogan karena ada yang pantas aku arogani. Mungkin perubahan juga terjadi padaku, untuk itu aku tak terlalu menyalahkan keadaan. Kehidupan semakin tak selaras dengan apa yang dicita-citakan semula, aku menjauh katanya, aku berubah dia bilang, aku hanya menangis akhirnya...
 Malam ini sedikit berbeda, aku senyum pada bayanganku sendiri saat berjalan menyusuri lorong menuju dapur, rasanya memang indah kalau sudah disanjung dan dipuja, tapi ini orang yang berbeda, bukan kamu, bukan dia, aku tetap senang karena dia pernah hadir sebelumnya.. Tetap saja untuk saat ini bukan yang ku inginkan?! :(
Sadarkan dia, Tuhan, dia tahu sebenarnya aku menyesal, entah takut atau masih takut atau memang takut untuk kembali.. Sebelum terlambat, datangkan lagi dia, aku tunggu disini untuk mengobati semuanya :)
Post a Comment