kenapa wanita [aku] menjadi kasar?

Adakalanya seorang manusia layaknya perempuan (aku), membuncahkan emosinya dengan cara yang mungkin tidak pantas untuk manusia perempuan itu. Menjadi saksi bahwa emosi yang tertahan adalah lebih sakit daripada tersayatnya kulit yang dirawat setiap hari. Disamping karena securah sifat egois, aku tak pernah menerima rasa sakit yang terlempar untukku, dari apapun, siapapun. Emosi memang dominan dari aku, tapi itu bukan sesuatu yang liar yang membunuh tanpa sebab.
Layaknya wanita atau yang masih perempuan, aku manja dan belum tangguh, tapi untuk itu aku sangat tidak suka dijahati. Wanita mana yang setuju saya melempar telur ke kepala seorang penjahat? Ternyata memang semuanya tidak setuju. Lalu wajarkah saya melempar pisau ke dada seorang pencopet? Saya tahu kalian (para wanita) akan sangat menyetujuinya.
Wanita yang tanpa perlindungan pria adalah rapuh, rapuh sedikit kosong, tepatnya. Namun wanita digenggaman kasih seorang pria adalah jelmaan manusia berhati kapas, mungkin berhati sutra. Lantas apa jadinya jika dalam suatu masa pria itu justru mengundang decak marah dan derai air mata untuk wanita yang selama ini berlindung direlungnya? Wanita itu terlempar dari pelukan dan terpaksa harus berpura-pura kuat...
Post a Comment