worship with a glad heart and hearted happy

Sore di hari Sabtu, saat orang-orang biasa tengah prepare untuk ngelayap, gue yang luar biasa dengan bangga diam di rumah tercinta. Tak dinyana sore itu mami ngajak gue sholat Gerhana, katanya harus mulai takut sama kiamat, jangan cuma online dan sms-an dan telefon-telefonan dan pacaran [!]. Dengan sigap gue jawab, "Yeah! Let's pray!". Dan terbentuklah rencana kita sekeluarga mengikuti Sholat Gerhana Bulan Sebagian di Masjid Al-Barkah malam nanti, katanya sih kontak awal Gerhana itu sekitar pukul 05:17 sore dan berakhir sekitar jam 8 malam. Serem juga ya kalau gak ada listrik?!
Aduh, apaan nih? wow! GEMPA! Gue yang lagi online (masih) ngacir keluar rumah bareng adek sialan gue yang masih sempet-sempetnya bercanda! Tapi karena diberi ketenteraman hati sama Allaah, gue merasa cukup 'tidak shock'. Setelah itu online lagi seperti sebelumnya...
Berangkatlah kita sekeluarga ke Masjid Al-Barkah (alamat dirahasiakan dan memang gue gak tau lengkapnya), wow, ternyata kesadaran manusia akan Tuhan masih sangat kental di sini, terbukti jemaah membludak keluar ruangan masjid, dan secara otomatis memaksa kita (gue, nyokap, temen nyokap: called Bu Ai) untuk menempatkan diri di teras, no problem, eh, many problems! Kuatkah kita di sini sampai jam 8 malam? Let's see later :(

Sebenarnya gue kurang suka sama anak kecil, apalagi yang bergerombol, euh, pengen nyapu deh! Tapi, riuh rendah anak-anak balita di masjid Sabtu malam lalu menusukkan pandangan gue pada satu, oh, dua sosok balita, maybe a three-year-old girl and a boy aged 5 years old. Pertamanya satu balita itu menatap ke arah gue, gue lalu kasih senyum dan lanjut ngobrol sama mami. Tiba-tiba gue diserang rasa kangen yang berlebihan, asli sumpah kangen banget! Gak tahu sama siapa tiba-tiba gue merasa kosong dan seolah ada orang yang dulu pernah ada dan tiba-tiba ada lagi tapi nyatanya gak ada.

Anak itu!
Ya, gue langsung lirik kanan-kiri, berharap anak itu masih menatap gue dari sisi jendela mesjid tadi. Ada! Tapi dia lagi narik-narik kerudung balita lain (sungguh wajar memang). Gue samperin aje, kagak napa-napa dah mau dikira apa juga, bisa dibilang biasa bukan gadis remaja menggemari anak kecil? Gue pegang kedua bahunya, senyum, dia melotot, senyum makin lebar, dia malah keliatan mau nangis, stop aja senyumnya. Dan gue melancarkan pertanyaan merdu yang tidak sadar telah ada di pikiran gue sebelumnya "Ade, kakak Iki nya mana?", anak itu menjawab "Cekolah" (Sekolah kan? Bukan selokan?) "Oh... maminya mana?". Dan gue bertemu dengan mamanya anak tadi, "Eh, Isma udah besar! Sekolah dimana? Aduh udah lama ya gak ketemu makin can*ik aja Isma!"...

Benar apa yang gue rasakan, anak kecil tadi itu (namanya Regina) adalah adik temen kecil gue dulu, Rifky, (mirip abis wajahnya, kayak si Iky waktu balita aja gimana!) dia temen SD gue dan keluarga kita sangat erat pertemanannya. Ada kali gue gak ketemu 7 tahun sama Iky, dan kemarin pun gue gak ketemu. Mungkin dia lagi gak di Tasik...


NB: berlanjut ke "worship with a glad heart and hearted happy part II"
[keburu ngantuk abis main seharian, bite all! :@ lho?! nite all! :D]
Post a Comment